Hujan, Kamu dan 501 kilometer

Saya tidak ingin menyakiti diri sendiri dengan menulis apa apa yang mengandung kamu di dalamnya.
Bahkan saat tulisan ini saya tulis.

Hati masih mencari obat untuk memulihkan.
Mengisi segala macam cara agar tak semena mena ingatan saya keluar dengan sendirinya.
Mencari segala macam cara sebagai upaya pelarian.

Sampai saya tahu, bahwa bagaimanapun saya harus menghadapi: dimakan pikiran tentang kita.

Saya sakit, dan kamu tidak peduli.
Saya kecewa, saya ingin marah, saya ingin membencimu dan memukulku dengan kencang.
Tapi saya sadar,
Saya pernah mencintaimu dengan kesungguhan. (dan akan selalu begitu)

Dan sebaik baiknya mencintai adalah kemampuan untuk memaafkan.
Bahkan pada hal yang membuat saya jatuh sendirian.

Malam ini air berduyun duyun jatuh dari langit.
Membasahi bagian kotaku, kota yang juga pernah kamu singgahi.
Beberapa hariku juga terasa kosong, tidak sepadat biasanya.

Mungkin bisa ku katakan,
Satu-satunya hal yang membuat senyumku melebar dan penuh dengan semangat adalah ketika melihat ada chatmu.
Menyapa apapun.
Membicarakan apapun.

Aku mulai cemburu dengan keadaan.
Dengan jarak yang hanya bisa ku ajak untuk bersahabat.
Dengan ego yang ku ajak untuk lebih bersabar.
Dengan rindu yang ku ajak untuk lebih bisa terbiasa.
Dengan kantuk yang ku ajak untuk lebih tertahan.
Dengan peluk yang ku ajak tersampaikan lewat sujud dan doa.

Semoga kamu selalu mengerti,
Aku selalu menyayangi.
- Dari sini, 501 kilometer darimu.

(karlina, edited)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar