Terlalu Cepat

Untuk Batu Karangku, si kuat yang berhasil menghancurkan pertahananku.

Sehabis hujan sore ini, aku kembali membaca ulang percakapan kita, saat aku dan kamu masih menjadi dua manusia yang bisa dibilang punya kecocokan juga kesamaan. Aku tertawa walaupun diam-diam hatiku teriris mengingat bahwa hal-hal manis ini tak mungkin terjadi lagi. Tak mungkin lagi aku berharap bahwa kamu akan berubah jadi pria yang dulu begitu kukenal, yang kehadiran selalu sulit kuduga, dan yang diam-diam menaruh coklat di tasku. Kenyataan yang harus kuterima, kamu bukan lagi pria yang dulu sangat kucinta, kamu berubah jadi orang asing beralis tebal, berkacamata, yang mungkin tak mau tahu lagi kenangan-kenangan kita dulu.

Rasanya aku masih mengingat wajah lonjongmu, alis tebalmu yang indah dengan kacamata entah minus berapa, hidung yang cukup mancung. Aku masih menyimpan memori ketika kamu selalu mengantarku pulang dengan senyummu yang (dulu) hanya untukku, bercerita apapun sampai pagi dan kau memarahiku karena begadang lagi, dan banyak hal lain yang jika semakin kuingat, semakin membuat dadaku sakit.

Aku semakin jatuh cinta padamu. Aku tak pernah paham apa yang membuatmu kini menjauh, aku tak tahu mengapa hubungan yang awalnya kukira hanya main-main ini ternyata menimbulkan luka yang luar biasa dalam bagiku.

Terlalu cepat jika semua harus berakhir. Terlalu cepat jika aku harus kembali bersedih karena kehilangan kamu. Aku sedang di puncak sayang-sayangnya sama kamu, sementara kamu mendorongku dari atas sana, membiarkanku terjerambab, terjatuh sendirian, dan kamu tertawa seakan tidak melakukan kesalahan. Ini terlalu cepat, Batu Karangku. Perempuan yang selalu kamu sebut dengan Laut ini masih ingin memperjuangkan dan mengusahakanmu, tapi mengapa sekarang kamu lebih sering bersamanya? Mungkin, ini tidak akan pernah adil untukku, namun apa yang bisa aku tuntut? Kita tak punya status apapun, menangispun rasanya tak akan membuat kita kembali seperti dulu.

Aku tidak membencimu. Aku cuma benci hari-hari tanpamu. Aku tidak akan pernah menyesal pernah mengenalmu. Aku hanya menyesal mengapa dulu saat kau tawarkan perkenalan, aku terlalu cepat untuk mengulurkan tangan?

Dari Lautmu, yang tenang, diam,
tapi selalu mendoakanmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar