sepasang mata yang mulai lelah untuk menahan derasnya hujan yang bisa kapan saja tumpah; juga hati dan pikiran yang mulai ragu akan usaha yang selama ini dilakukan untuk menjadi baik baik saja.
sementara hangat yang diam diam kuhantarkan lewat peluk yang kucuri dari punggungmu selalu melahirkan pertanyaan yang sama; mengapa kita tak pernah lagi sama?
kemudian pagi selalu menjadi perkara yang tak dapat ditunda, yang menerbitkan matahari di keningmu yang menjadi penerang jalan menuju pulangmu yang tak sanggup kucegah sebab aku tak pernah terlahir sebagai rumah.
Terimakasih sudah mampir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar