Tuhan kembali merahasiakan kehendakNya, ketika entah dengan kekuatan apa kita saling bertukar cerita. Dan, aku sungguh sangat membenci hal itu, mengapa saat itu aku menggubris mu? mengapa saat itu aku biarkan kau mengetuk pintu hatiku?
Aku pun juga tak tahu apa ini cinta atau hanya rasa nyaman yang terlalu berebihan? Setiap malam ketika kita membicarakan banyak hal, setiap kausapa aku lebih dulu, dan setiap jengkal detik yang kita gunakan untuk tertawa walau tanpa suara; aku sungguh menghargai saat saat itu. Sejak kamu masuk dalam daftar yang kusebut dalam doa, kamu sudah berada disana, dihatiku; yang dulu kuyakini tidak akan dihuni lagi oleh pria sepertimu.
Kuterima diammu dengan cuma cuma. Kubalas sifat dinginmu tanpa banyak suara. Kuhargai semua bisumu yang hanya memunculkan tanya. Aku ingin tahu apa yang sesungguhnya ada dalam hatimu? Januari setahun lalu aku ingat kita pernah begitu hangat. Tak ada panggilan sayang, tak ada panggilan cinta dan tak ada ungkapan perasaan. Tapi kupikir itu tak kita butuhkan, kita sudah terlalu asik dengan apa yang kita jaga selama ini. Tunggu dulu, kita jaga? Apakah memang benar benar kita jaga? Atau hanya aku yang berjuang menjaga "kita" sendirian?
Aku ingat percakapan kita kala itu, kata katanya tak pernah kulupa. Kalau aku bisa minta pada Tuhan untuk menyimpan semua dengan rapi dan bisa mengulang peristiwa manis itu untuk kesekian kali, aku tak segan-segan berkorban apapun; asal kita bisa seperti dulu lagi. Tidak menjauh seperti ini.
Tapi sekarang bukan lagi seperti dulu. Kamu tiba tiba menjauh tanpa alasan yang tak kupahami. Jujur kalau kau mau tau, aku tersiksa beberapa bulan ini. Terutama ketika bertemu denganmu, ketika menerima kenyataan bahwa kita telah berbeda. Kita bertemu hampir setiap hari, setiap hari juga aku terus bisu- tak bertanya soal perubahan sikapmu yang membuatku hampir meledak karena tak kunjung mengerti pikiranmu.
Apa yang bisa kulakukan agar aku tetap bertahan? Kularikan rasa rinduku kedalam tulisan. Di sana aku bisa menangis pilu tanpa membuat tuli telingamu. Aku rindu kamu, dan kamu nampaknya tak pernah tahu dalam tujuh bulan ini, aku tak bisa berbuat banyak selain menunggu kamu berbicara terlebih dahulu. Aku selalu kuat membisu, meskipun rasanya ini bodoh, entah mengapa aku tak ingin melupakanmu.
Kalau aku punya keberanian lebih, rasanya aku ingin bertanya sesuatu padamu. Seberapa butakah matamu sehingga kau tak melihat perhatianku? Seberapa matinya perasaanmu hingga kau tak sadar ada orang yang berjuang untukmu? Mengapa kau mudah mengakhiri yang kupikir bisa berjalan lebih lama dari ini?
Apa kau tau rasanya bertemu dengan orang kau cintai, hampir setiap hari, namun kau harus bertingkah seakan tak ada rasa, seakan kau sudah lupa, seakan semua tak pernah terjadi? Kualami rasa sakit itu setiap hari, setiap kau masuk kelas, setiap aku melihat perhatianmu bukan lagi untukku.
dari temanmu
yang pernah begitu dekat denganmu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar